Setelah menunggu pengumuman kelulusan SD, SMP, dan SLTA, kini orang tua dan adik-adik kita dihadapkan pada seleksi masuk sekolah atau perguruan tinggi. Ujian seleksi emang sangat ketat tetapi tidak semenakutkan UNAS kemarin. Atau paling tidak ada pilihan untuk memilih sekolah yang sesuai. Ternyata yang menjadi hambatan adalah mahalnya biaya pendidikan.
Bukankah sekolah gratis? Kok dibilang mahal sih? Betul, sekolah SD dan SMP gratis SPP. Tapi bagaimana biaya sekolah SMA dan perguruan tinggi. Sebagai contoh ada SMA Negeri kabupaten di Jawa Tengah yang pada tahun ini uang pangkal Rp 3juta-Rp 5juta ditambah SPP Rp 250.000,-/bulan atau Rp 1,5 juta/semester (6 bulan). Bayangkan petani atau tukang becak bagaimana bisa menyekolahkan anaknya ke SMA tersebut. Mau menjual ternak atau sawah? Itu tidak mungkin karena barang tersebut adalah sumber penghidupan. Akhirnya biarpun nilai bagus tapi akhirnya harus gigit jari.
Demikian halnya sekolah di perguruan tinggi tak kalah mahalnya. Terutama PTN yang telah berubah status menjadi BHMN atau BHP akhirnya untuk pendanaan dibebankan kepada mahasiswa dengan menaikkan uang pangkal dan biaya semesteran. Sebagai contoh UI, beberapa tahun yang lalu di UI sekitar 2juta-an. Kini uang untuk kuliah di teknik UI uang pangkal Rp 25 jt, dan semesteran Rp 7,6jt. Untuk ukuran uang berduit di Jakarta itu wajar, tetapi untuk orang kampung yang ingin kuliah di UI sudah takut duluan. Ini karena UI sudah menjadi BHMN yang mana UI memerlukan biaya operasional tambahan karena subsidi negara dikurangi. Nah bagaimana PTN-PTN di daerah bila kelak juga berubah menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP)? Bagiamana nasib anak orang miskin, anak petani, anak nelayan, anak buruh. Bukankah mereka juga berhak mngenyam pendidikan tinggi. Apa mereka hanya berhak sekolah sampai SMP saja? Atau mereka hanya berhak kuliah di sekolah-sekolah atau kampus “pinggiran”. Apakah mereka tak pantas untuk sekolah di UI, ITB, UGM? Lantas dimana bagimana amanat pembukaan UUD 1945 tentang mencerdaskan kehidupan bangsa. Atau yang berhak cerdas hanya mereka yang kaya saja. Yang miskin biar tetap bodoh dan miskin.
Ini sebuah ironi. Anggaran pendidikan dinaikkan, tetapi biaya untuk mengakses pendidikan semakin mahal. Saya secara pribadi menyedihkan kejadian ini. Tulisan ini diilhami kejadian nyata yang terjadi di negeri ini. Semoga dapat menjadi pemikiran bagi pemimpin bangsa yang sebentar lagi kita pilih. Mendapatkan kesempatan pendidikan adalah hak semua warga negara.
Bukankah negara ini didirikan untuk mencerdaskan dan menyejahterakan rakyatnya?
Masmus™
kredit: foto (http://kustejo.files.wordpress.com)Tags: biaya, mahal, mahalnya pendidikan, pendidikan, sekolah, sekolah mahal












Buset mahal bener! Kok dulu aku seolah SMA di Jakarta nggak semahal itu sih?
RSBI memang mahal terutama akan dirasakan oleh orang tua di daerah-daerah. Sebagian besar mereka berpenghasilan rendah akan sangat terbebani bila ingin masuk di sekolah negeri yang RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Bagi oarng tua yang pegawai, PNS, atau kaum berada mungkin hal itu tak bermasalah. Tapi bagi kaum miskin (petani, tukang becak, pegawai rendahan) akan sangat berat untuk menyekolahkan di sekolah tersebut.
Solusi untuk biaya pendidikan yang mahal, gini aja deh,
Sekolah atau kuliah di tempat biasa saja. IPK nya cukup standar saja (3.0 untuk sosial dan 2.75 untk Eksak). Tapi saat sekolah/kuliah belajar bisnis yang mantab, anggap saja sekolah sebagai formalitas, kursus bisnis dan motivasi diperbanyak. Nanti lulus sekolah/kuliah langsung mandiri, gak usah jadi kuli orang lain…..
Ha..ha.. maksudnya kuliah aja di UNS Solo gitu ya mas Isparmo… IPK minimal 2.75 habis itu mulailah membekali diri dengan organisasi dan bisnis dengan praktek langsung.. Ditekuni dan diseriuasi…
Ide menarik, tapi sangat berat, kalau bukan untuk mereka yang memiliki kemauan dan keninginan yang kuat..
Selama ini mindset kita lulus dengan IPK tinggi, terus kerja di perusahaan bonafit dengan gaji tinggi, Kita gak pernah sebelum lulus sudah dapat mencari uang sendiri, setelah lulus dapat membuka lapangan kerja… Ide menarik nih mas Mamok!
Iya..betul, biaya pendidikan semakin mahal khususnya untuk pendidikan tinggi. Solusinya susah juga, karena kita masuk dalam sistem yang kompleks. Pemerintah, anggota dewan terhormat juga “will” masyarakat sendiri…Jadi, kalo sebagai seorang pribadi, ya kita usahakan untuk memotivasi orang terdekat kita untuk terus belajar..juga berjuang…
Terkadang sedih juga melihat mereka atau teman2 kita yang tidak “terpilih” dalam ganasnya materi untuk masuk pendidikan tinggi. Tapi…kita harus optimis…bukankah kita2 ini yang disebut “generasi muda”…asalkan kita menjalankan peran dan fungsi kita sesuai dengan “bidang” Kita…insyaAlloh Harapan Itu Masih ada. masa depan pendidikan….
Ya, yang bisa mengkritik ya mengkritik, yang bisa memberi beasiswa ya berikan beasiswa, yang bisa ngajar ya berkontribusi mengajar, yang bisa nulis ya lewat nulis untuk mengkritik, dst.
Hehehehe kommen-nya panjang amat..
VIVA INDONESIA
Gini aja,
Kuliah kalo gak bisa di ITB, UGM, UI, gak apa2. Cukup di UNS juga gak masalah (masih murah pula kan, trus passing grade UMPTN nya juga gak terlalu tinggi). Gak usah pesimis, kalo dah lulus trus kerja sama aja tuh kemampuannya.
Mendingan belajar bisnis saja, pelan2 gak apa2, gak harus langsung bisnis. Di sambi kerja kantoran aja.
Katanya Sekolah Gratis,,?? (menurut Iklan Departemen LanjutGan)
Salam Kenal Juragan..
Salam Anak Bangsa..
Salam Perubahan..
http://celotehanakbangsa.wordp.....teh-janji/
Pendidikan di Indonesia belum menyentuh aspek yang paling mendasar yaitu ” Pemerataan Pendidikan ” hanya yang punya uang yang bisa menikmati akses ini, bagaimana saudara kita yang benar – benar ngak mampu belum lagi untuk kebutuhan sekolah dll………….
semakin maju negara kita semakin mahal biaya pendidikan.
semakin maju negara kita, semakin murah biaya pendidikan!!!!!!
[...] Mahalnya Biaya Pendidikan di Indonesia [...]