
Akhir-akhir ini kita disadarkan pada kenyataan bahwa bangsa ini masih memiliki nilai tawar yang rendah di mata internasional. Ya, kita semua sebagai warga bangsa memilki keinginan agar bangsa kita sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Nah bagaimana agar kita memilki nilai tawar tinggi ini yang menjadi permasalah bersama.
Waktu sepuluh tahun lepas sejak krisis ekonomi yang menjadi krisis multidimensi belum mampu untuk mengembalikan bangsa ini bangkit. Dalam banyak hal kita tertinggal dengan negara-negara tetangga kita apalagi dengan negara-negara maju. Dalam hal pendidikan kita masih dibawah Vietnam, negara yang pernah diinvasi AS. Malaysia yang dulu banyak mengirim guru untuk belajar di Indonesia kini telah jauh meninggalkan Indonesia. Singapura negara kecil yang makmur itu saat ini juga telah menguasai beberapa perusahaan vital di Indonesia, misal Telkomsel, Indosat, dll. Belum perusahaan lainnya. Universitas di Singapura telah menjadi Universitas kelas dunia. Orang kaya Jakarta lebih suka berlibur dan berwisata belanja di Singapura. Demikian halnya bila berobat ke rumah sakit lebih bangga dan percaya dengan RS di Singapura.
Kesempatan kerja yang terbatas di dalam negeri banyak membuat masyarakat kita mengadu nasib menjadi TKI di luar negeri. Sudah kita maklumi bersama ada beberapa TKI atau TKW kita yang mengalami kekerasan dan penyiksaan di luar negeri bahkan ada yang meninggal. Tetapi negara masih lemah dalam hal perlindungan terhadap warganya yang menjadi pahlawan devisa itu. Yang telah berjuang untuk menghidupi keluarga di kampung halaman. Pengangguran dan kesempatan kerja masih menjadi problem besar bangsa ini.
Salah satu upaya untuk mengatasi masalah itu dimulai dari pendidikan. Pembenahan pendidikan sangat diperlukan. Termasuk juga meningkatkan mutu tenaga pendidik. Merekalah sebagai salah satu motor penggerak pendidikan. Dan untuk itu dibutuhkan dana yang cukup besar sehingga anngaran untuk pendidikan juga harus besar. Walau kini telah dimulai tetapi tampaknya hal itu masih cukup jauh. Banyak sekolahan terbengkalai. Tidak ada guru atau tenaga pendidik yang mengajar. Teruatama di daerah-daerah terpencil.
Ada satu yang menggelitik di hati saya, anggaran pendidikan yang begitu besar mengapa biaya kuliah di perguruan tinggi makin mahal. Lihat saja berapa SPP dan uang pangkal di universitas BHMN; UI, IPB, ITB, dan UGM. Biaya studi yang begitu tinggi membuat anak-anak tidak bisa studi di perguruan tinggi yang didanai oleh pajak rakyat. Hanya mereka kalangan menengah ke atas yang akan menikmati fasilitas pendidikan yang dibiayai oleh negara.
Sahabat biarpun kita masih miskin dan bodoh namun semangat belajar terus membara. Belajar dari kesultan dan kepayahan hidup yang kita jalani. Bila saat ini kita masih bodoh kita pun berharap anak cucu kita lebih pintar dan berakhlak mulia agar bangsa ini lebih bermartabat.
Masmus™
Tags: bangsa, indonesia, martabat bangsa, pendidikan, pendidikan bermutu












Mas Mus,
Paling tidak kita bisa berkontribusi bagi dunia pendidikan Indonesia dengan menggunakan blog yang kita miliki. Mari kita sebarkan ilmu yang bermanfaat…
Setuju Mas. Orang yang paling mulia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.